Hidangan istimewa tiada duanya
Santapan lezat nan nikmat
Edisi spesial untuk para Koruptor
Dapat dinikmati untuk:
- Sarapan pagi
- Makan siang
- Cemilan di sore hari
- Makan malam

Semoga kalian sadar...

Berangkat hitamputih
Pulang warnawarni


























Gak pake lama, kokang, jepret!



Ganti baju, lalu... berangkaatt!!







Finishing my pray and then continuing my sleep.



"Mas, lagi ada paket nih, beli 3 dapet map Concept seharga 100 ribu."
"*Jiwa Padang keluar*Yah, gak 100 dapet 4 mba?"










HF: ”Pak, aslinya orang mana ya?”
MD: ”Saya sebenernya bukan orang sini dek, asli dari Sumatra Utara, Medan”
HF: ”Ooo… sejak kapan Pak, merantau ke Jakarta”
MD: ”Dulu saya pertama kali ke Jakarta itu tahun 1974, mungkin adek belum lahir kayaknya?” *Si Bapak tersenyum*
HF: ”Hehe, belum pak, kayaknya saya masih RAPBN. Trus, mulai kapan jualan di Jakarta?”
MD: ”Hmm, itu tahun 1984, waktu itu ikut-ikut saudara jualan, dan itu sudah tinggal di Rawamangun”
HF: ”Kalo diliat-liat nih Pak, jualannya macem-macem ya… Kayak warung serba ada”
MD: “Iya dek. Bapak jualan tergantung acara yang lagi rame. Kayak sekarang mau 17an, ya Bapak jualan Bendera juga. Lebih banyak ngikutin kegiatan acaranya anak-anak sekolahan. Mereka butuh barang, saya yang siapin dan jualin.”
HF: “Hoo.. Pak, sebenernya kan sebelah ada pasar, kenapa gak coba buka Toko disana Pak?”
MD: “Dulu sempet buka toko disana, beberapa bulan gitu, tapi saya tutup lagi, lebih gede duit keluar buat bayar sewa toko dibanding uang yang masuk.”
*Ada anak kecil datang trus cium tangan Pak MD*
MD: “Itu anak saya paling kecil”
HF: “Hoho… wah wah, hebbaatt… Emang udah punya berapa anak Pak?”
MD: “4. 2 sudah berkeluarga, 1 lagi kuliah, 1 lagi yang barusan, masih SD, sekolahnya ya ini *sambil nunjuk Sekolah disebelah (Diponegoro)*”
HF: “HEBBAATTT PAK!!! *dalem hati takjub*. Trus nih Pak, buka warung dari jam berapa?”
MD: “Karena rumah deket sini *sambil nunjuk gang kecil disebelah*, jadi buka mulai sekitaran jam 11 siang, trus tutup jam 10 malem, gak repot kayak pedangan lain, musti berangkat pagi-pagi”














Asyeekk, difoto……



Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu





















"Dek, ayo baris, mau difoto nih.."
"Gak ah kak, saya gak punya duit"
"Loh?"
"Iya, pasti bayar, ntar kakak minta duit lagi"



I am a totally blind person. But by memorizing the event of taking photos using sound and touch I have a clear minds eye view of my work. I could do conceptual art by showing the contact sheets and a do a write-up about the event of shooting the photos. This would eliminate sighted people from my process. I don't. I want to interact with sighted people. I am trying to cut a path as a blind artist. By interacting with sighted people I am building bridges. My work makes people question their assumptions. By sharpening my other senses and translating what I hear helps my skills. I can see again. I am not trying to depict the sighted work. I am trying to show the world I now see using my other senses. My memories, emotions, as well as sound and touch play a part. Some people don't think I am blind after looking at my work. I am a visual person, I just can't see.
~Pete Eckert~























